HISTORY OF ADAM
Allah made the mountains and the seas. He made all the animals. He made the heavens and the stars.
He made the sun and the moon and he made the angels. The angels were like Allah's servants and did everything He ordered.
Then Allah decided to make a man. He called this first man Adam. He taught him many things so that Adam had more knowledge than the angels.
There was one Jinn, called Iblis and he thought he was better than Adam so Allah would not let him stay with the other angels. He was to be called 'Shaytan', the Devil.
Shaytan blamed Adam for what had happened to him and was very angry. Allah let Adam live in a beautiful place because he was good. The place was called Paradise.
It was a very nice place but Adam was a little lonely, on his own all of the time.   Allah decided to help Adam. He made Hawa to be Adam's wife. They were happy and liked living in Paradise.
There was, however, one thing they were not allowed to do. There was a special tree and Allah had told them they must not eat any fruit from that tree.
At first Adam and Hawa were very good and kept away from the tree.   Shaytan decided to do something very naughty. He told them they were silly to keep away from the tree. He said nothing would happen if they ate its fruit. He said the fruit was delicious and they should try it.

After a while they began to listen to Shaytan and thought they would have just a little taste of the fruit, just to see what it was like. Shaytan was very happy because he had made them disobey Allah. As soon as they had eaten the fruit, Adam and Hawa realised that they had been very naughty and they felt guilty for what they had done.

Allah forgave them But He wouldn't let them stay in Paradise any more So He sent them to live on earth.
                             



                                                    http://komisigratis.com/

HISTORY PROPERT ADAM AS

Posted by : FIRMAN RIZKI

Judul : The History of Java
Penulis : Sir Thomas Stamford Raffles
Penerbit : Gilbert & Rivington, London 
Tahun Terbit : 1817


History of Java merupakan buku asli Raffles (1817) yang terdiri atas dua volume, yaitu uraian inti tentang Jawa secara lengkap dan  informasi tambahan. Namun di dalam terjemahan ini, kedua volume tersebut  telah disatukan.
Raffles (1781-1826) mengawali kariernya sebagai juru tulis sebuah perusahaan  Hindia-Timur (1795). Menurut sebuah biografi, Raffles dikenal sebagai seorang yang  tekun, rajin belajar, ulet, dan berkemauan keras. Raffles mempunyai  semua syarat sebagai penghasil mahakarya (masterpiece), sehingga  mahakarya "The History of Java" dapat terselesaikan.
Raffles pertama kali berada di Jawa (1811) berperan sebagai Lieutenant Governor  of Java yang bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal Inggris di India yaitu  Lord Minto (Sir Gilbert Elliot Murray-Kynynmond) yang kemudian meninggal pada tahun 1814 dan digantikan oleh Raffles. Namun pemerintahan Raffles hanya bertahan selama 5 tahun. Saat Jawa kembali ke tangan Belanda, Raffles tengah menggagas dan  mengerjakan proyek arkeologi dan botani di Jawa. Kemudian sampai tahun 1823  Raffles menjadi Gubernur di Bengkuluyang memang berdasarkan suatu perjanjian tidak diserahkan ke  tangan Belanda bersamaBelitung,  dan Bangka.
Dalam hatinya, Raffles masih sangat menyukai Jawa dan ia membenci Belanda yangkembali berkuasa di Jawa. Pada tahun 1819 Raffles menjalin kerjasama dengan Tumenggung Sri Maharaja penguasa  Singapura dalam rangka menggagas pusat perdagangan di Pulau Singapura. Kerjasam itu membuat Inggris diizinkan mendirikan koloni di Singapura dengan syarat  Inggris melindungi para pedagang Singapura dari Belanda dan Bugis. Raffles bersumpah Singapura akan dijadikan koloni baru yang meskipun kecil, namun akan  jauh lebih maju dari Tanah Jawa yang dikuasai Belanda. Raffles berupaya keras mewujudkan sumpah. Sehingga  Singapura menjadi pusat perdagangan paling penting di wilayah Hindia Timur,  sampai saat ini.
Pada tahun 1823 
Raffles meninggalkan Indonesia (Bengkulu) karena situasi politik. Tiga tahun kemudian, tepatnya sehari sebelum ulang tahunnya yang  ke-45, Raffles meninggal dunia. Meskipun ia meninggal dalam usia yang masih tergolong muda, telah banyak jejak yang ditinggalkan Raffles, antara lain :
1.      Menggagas berdirinya  Kebun Raya Bogor bersama ahli-ahli dari Inggris.
2.       Mendirikan Kebun  Raya dan kebun binatang yang terkenal di Singapura.
3.      Warisan budaya Jawa digali dan  ditemukan  atas prakarsa Raffles : Candi Borobudur (1814), Candi Panataran (1815), Candi Prambanan  (1815).
4.      Mendirikan Museum Etnografi Batavia.
5.      Berperan sebagai administrator  pemerintahan di Jawa dan Bengkulu.
Semua jejak dan karya Raffles itu terekam dalam buku History of Java yang juga merupakan referensi komprehensif tanah Jawa.
Secara garis besar, Raffles membagi bukunya ke dalam 2 jilid yang terdiri dari 11 Bab.Pada buku jilid 1 terdiri dari Bab 1 sampai Bab 7, sedangkan pada jilid 2 terdiri dari Bab 8 sampai Bab 11, yaitu sebagai berikut :
Bab 1     Kondisi Geografis Pulau Jawa (termasuk di dalamnya keterangan geologi)
Bab 2     Asal Mula Penduduk Asli-Jawa
Bab 3     Pertanian di Jawa
Bab 4     Manufaktur  (Industri) di Jawa
Bab 5     Perdagangan di Jawa
Bab 6     Karakter Penduduk di Jawa
Bab 7     Adat Istiadat Penduduk di Jawa
Bab 8     Bahasa dan Sastra
Bab 9     Agama
Bab 10   Sejarah dari Awal-Munculnya Islam
Bab 11    Sejarah dari Munculnya Islam-Kedatangan Inggris
Dan lampiran-lampirannya berjumlah 12 (Lampiran A-M), yang garis besarnya sebagai berikut :
Lampiran A      Kemunduran Batavia
Lampiran B      Perdagangan dengan Jepang
Lampiran C      Terjemahan versi moderen Suria Alem (sebuah karya sastra)
Lampiran D      Hukum pada Pengadilan Propinsi di Jawa
Lampiran E      Perbandingan kosakata bahasa-bahasa suku di Jawa dan sekitarnya
Lampiran F      Cerita Pulau Sulawesi dan perbandingan kosakata bahasa-bahasa suku
Lampiran G      Angka-angka Candra Sengkala
Lampiran H      Terjemahan Manik Maya
Lampiran I       Terjemahan huruf prasasti Jawa dan Kawi Kuno
Lampiran J       Pulau Bali
Lampiran K      Instruksi Pajak
Lampiran M     Memorandum tentang berat, ukuran, dll.
Pembahasan History Of Java
Tidaklah susah menemukan buku-buku yang mendeskripsikan keadaan Indonesia pada masa kolonial. Beberapa buku tersebut antara lain History of Sumatra karya William Marsden, History of The East Indian Archipelago karya John Crawfurd. Namun tidak ada dari deretan karya tersebut yang begitu monumental layaknya The History of Java, karya Thomas Stamford Raffles yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1817.
Monumentalnya karya Raffles ini dapat dilihat dari kerapnya The History of Java dijadikan acuan untuk menggambarkan Jawa pada masa kolonial, khususnya masa kolonialisme Inggris yang sangat singkat di Nusantara. Bernard H.M.Vlekke dalam karyanya, Nusantara, menyebut The History of Java sebagai “campuran menawan deskripsi ilmiah, apologi, atau yang di zaman modern disebut pelaporan cerdas.”. Karena pengakuan itulahPenerbit Narasi terdorong untuk menerbitkan The History of Java dalam bahasa Indonesia.
Tidak hanya itu saja, monumentalnyThe History of Java juga ditopang oleh begitu kuatnya sosok Thomas Stamford Raffles sebagai penulis yang terlibat langsung dalam pemerintahan Hindia Belanda sebagai Gubernur Jenderal (1811-1816). Hal ini disebabkan oleh pandangannya atas Hindia Belanda yang begitu berbeda dibandingkan masa kolonial Belanda memegang pemerintahan. Begitu berpengaruhnya sosok Raffles direfleksikan pula oleh Drs.Syafruddin Azhar dalam Pengantar edisi Indonesia The History of Java.
Raffles bukanlah tokoh dalam sejarah Inggris yang berasal dari kelas bangsawan. Ayahnya, Benjamin Raffles hanyalah seorang tukang masak di sebuah kapal yang padaakhirnya menjadi kapten. Dan Ibunya, Anne Lyde Linderman.
Ketika Raffles masih muda, krisis ekonomi yang melanda Inggris memaksanya mencari pekerjaan untuk menyokong ekonomi keluarga. Dengan keuletan dan kecerdasannya ia berhasil menjadi Asisten Sekretaris pada sebuah perusahaan untuk wilayah Kepulauan Melayu, yang  pada akhirnya dipercaya sebagai Gubernur Jenderal oleh Lord Minto.
Menurut Vlakke, semasa pemerintahan Raffles khususnya di Sulawesi dan Kalimantan tidak lebih damai dibandingkan dengan masa kolonial Belanda. Misalnya saja di Sulawesi yang terjadi peperangan terus menerus dengan Bugis. Namun Raffles punya keistimewaan, ia membawa perspektif seorang humanis di Hindia Belanda dengan mengkritik keras metode yang digunakan oleh Belanda dalam menangani Hindia Belanda.Walaupun kemudiandisebutkan dalam bagian awal The History of Java bahwa ia tidak bermaksud menggambarkan keseluruhan pemerintah Belanda di Hindia Belanda sebagai tiran dan perampok.
Raffles memulai kegubernurannya dengan tekad tegas menentang perbudakan dan berusaha memperbaiki nasib para budak dengan menetapkan pajak khusus dan upaya-upaya lain agar penduduknya berhenti memelihara para hamba\sahaya. . Hasilnya memang biasa-biasa sajanamun langkah tersebut tetap diingat sebagai langkah pertama menentang peninggalan “zaman emas masa silam” yang sangat patut dicela. Dan Raffles tidak pernahmundur dari tujuannya itu hanya karena perlawanan dari mereka yang ingin mempertahankannya, baik itu orang Eropa maupun Indonesia.
Di dalam The History of Java masalah perbudakan hanya disinggung secara singkat oleh Raffles namun tetap dengan keberpihakan yang jelas. Dan pada Bab II buku ini Rafflesmenyebutkan bahwa, “Pendudukan pulau ini oleh bangsa Inggris pada tahun 1811 menyebabkan masalah budak menjadi perhatian utama, meskipun kita tidak bisa langsung melarang perbudakan atau membebaskan para budak yang ada, namun kita bisa sedikit memperbaiki dan mengubah peraturan menyangkut praktek ini sehingga di masa depan seluruh budak dapat dibebaskan.”(hal.47)
Hal menarik lainnya adalah mengenai pendapat seorang Raffles tentang karakter orang Jawa. Berbeda dengan orang Belanda, Raffles melihat orang Jawa secara positif. Tidak ada lagi propaganda tentang orang Jawa yang malas, pemarah, dan pembohong sebagaimana yang biasanya dicitrakan kolonial Belanda. Mengenai pandangan orang-orang Belanda terhadap orang Jawa dapat dilihat pada catatan resmi yang diberikan oleh Residen Dornick dari Distrik Jepara pada tahun 1812. Dornick dalam catatan resminya, sebagaimana dikutip Raffles, menyebutkan bahwa, “Jika orang Jawa adalah orang yang berkelas, atau dalam keadaan yang makmur, maka mereka akan terlihat sebagai orang yang percaya takhayul, sombong, pencemburu, suka membalas dendam, kejam, dan bertindak seperti budak pada atasannya, keras dan kejam pada para bawahannya, dan pada orang-orang yang tidak beruntung yang tunduk dalam wewenang mereka, mereka juga malas dan lambat.”
Sebaliknya, Raffles menyebut masyarakat Jawa sebagai penduduk yang dermawan dan ramah jika tidak diganggu dan ditindas. Orang Jawa dalam hubungan domestik memiliki sikap baik, lembut, kasih sayang, dan penuh perhatian. Sedangkan dalam hubungan dengan masyarakat umum orang Jawa adalah orang yang patuh, jujur, dan beriman, memperlihatkan sikap yang bijaksana, jujur, jelas dalam berdagang dan berterus terang.
Perbedaan ini disadari oleh Raffles akibat dari kolonial Belanda yang melihat masyarakat Jawa secara parsial. Menurut Raffles, karakter sejati dari penduduk pribumi bukan yang tampak pada pemimpin kelas rendah yang tunduk pada otoritas bangsa Eropa. Raffles dengan brilian menyimpulkan bahwa pengetahuan tentang orang Jawa harus lebih menitikberatkan pada golongan petani dan peladang, yang merupakan tiga per empat dari keseluruhan jumlah populasi, dan ini diterima dan secara hati-hati diterapkan untuk kalangan yang lebih atas darinya.
Beberapa hal yang telah disebutkan itu  hanyalah menunjukkan sebagian kecil dari sikap seorang Raffles yang sangat jauh berbeda dari tokoh-tokoh sentral lain yang pernah memegang kuasa sebelumnya, misalnya J.P.Coen. Raffles juga melakukan reorganisasi lembaga-lembaga administratif dan peradilan di Jawa, reformasi sistem pajak dan cukai, dan revisi atas perjanjian yang mengatur hubungan pemerintah Batavia dengan raja-raja Jawa. Tapi The History of Java tidak semata-mata menjadi laporan hasil kerja Raffles. Buku ini juga mencatat berbagai hal tentang Jawa secara detil, meliputi masalah geografis, kependudukan, pertanian, perdagangan, adat istiadat, kesenian, bahasa, hingga agama, yang kemudian juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang membantu deskripsi Raffles, sehingga membuat  The History of Java menjadi layaknya ensiklopedia tentang Jawa yang ditulis pada abad 19. Selain itu buku ini juga dilengkapi dengan lampiran tentang perbandingan kosakata bahasa Melayu, Jawa, Madura, dan Lampung. Begitu kayanya data dalam buku ini membuat sang penulis seakan-akan telah menulisnya berdasarkan observasi puluhan tahun. Wajar jika kemudian Raffles meyakini bahwa tak ada orang yang memiliki informasi mengenai Jawa sebanyak yang ia miliki.
Keterangan-keterangan dalam teks-nya dilengkapi dengan catatan-catatan kaki yang detail. Referensi berhubungan pada zamannya digunakannnya untuk memperkaya keterangan.
Saat Raffles memerintah di Jawa terjadilah letusan gunung api dengan energi terbesar di dunia dalam masa sejarah manusia : Tambora 1815 di Sumbawa. Dan, Raffles sangat detail menggambarkan peristiwa letusannya sampai efek-efek kerusakannya. Saya belum pernah menemukan keterangan lain sedetail keterangan Raffles tentang saat-saat letusan dahsyat Tambora tersebut.
Demikianlah sekilas memperkenalkan The History of Java (Raffles, 1817), sebuah buku tentang Jawa yang sangat berharga untuk dipelajari demi kepentingan masa kini.
Saat meninggalkan Jawa dan Sumatra, Raffles menangis meratapi alam dan penduduk yang dicintainya, yang dihentikannya dari perbudakan, yang digambarkannya sebagai "orang pribumi yang tenang, sedikit berpetualang, tidak mudah terpancing melakukan kekerasan atau pertumpahan darah".
http://firmanrizkifebrian.blogspot.com/

The History of Java

Posted by : FIRMAN RIZKI

The first known hominid inhabitant of Indonesia was the so-called "Java Man", or Homo erectus, who lived here half a million years ago. Some 60,000 years ago, the ancestors of the present-day Papuans move eastward through these islands, eventually reaching New Guinea and Australia some 30-40,000 years ago. Much later, in about the fourth millennium B.C., they were followed by the ancestors of the modern-day Malays, Javanese and other Malayo-Polynesian groups who now make up the bulk of Indonesia's population. Trade contracts with India, China and the mainland of Southeast Asia brought outside cultural and religious influences to Indonesia. One of the first Indianized empires, known to us now as Sriwijaya, was located on the coast of Sumatra around the strategic straits of Malacca, serving as the hub of a trading network that reached to many parts of the archipelago more than a thousand years ago. On neighboring Java, large kingdoms of the interior of the island erected scores of exquisite of religious monuments, such as Borobudur, the largest Buddhist monument in the world. The last and most powerful of these early Hindu-Javanese kingdoms, the 14th century Majapahit Empire, once controlled and influenced much of what is now known as Indonesia, maintaining contacts with trading outposts as far away as the west coast of Papua New Guinea. Indian Muslim traders began spreading Islam in Indonesia in the eighth and ninth centuries. By the time Marco Polo visited North Sumatra at the end of the 13th century, the first Islamic states were already established there. Soon afterwards, rulers on Java's north coast adopted the new creed and conquered the Hindu-based Majapahit Empire in the Javanese hinterland. The faith gradually spread throughout archipelago, and Indonesia is today the world's largest Islamic nation.Indonesia's abundant spices first brought Portuguese merchants to the key trading port of Malacca in 1511. Prized for their flavor, spices such as cloves, nutmeg and mace were also believed to cure everything from the plague to venereal disease, and were literally worth their weight in gold. The Dutch eventually wrested control of the spice trade from Portuguese, and the tenacious Dutch East India Company (known by initials VOC) established a spice monopoly which lasted well into the 18th century. During the 19th century, the Dutch began sugar and coffee cultivation on Java, which was soon providing three-fourths of the world supply of coffee.By the turn of the 20th century, nationalist stirring, brought about by nearly three centuries of oppressive colonial rule, began to challenge the Dutch presence in Indonesia. A four-year guerilla war led by nationalists against the Dutch on Java after World War II, along with successful diplomatic maneuverings abroad, helped bring about independence. The Republic of Indonesia, officially proclaimed on August 17th, 1945, gained sovereignty four years later. During the first two decades of independence, the republic was dominated by the charismatic figure of Sukarno, one of the early nationalists who had been imprisoned by the Dutch. General (ret.) Soeharto eased Sukarno from power in 1967. Indonesia's economy was sustained throughout the 1970's, almost exclusively by oil export. The Asian financial crisis, which broke out in mid-1997, paralyzed the Indonesian economy with the rupiah losing 80% of its value against the US dollar at the peak of the turmoil.On May 21, 1998, Soeharto resigned after 32 years in power and was replaced by B.J. Habibie following bloody violence and riots. Indonesia held its first democratic election in October 1999, which put Abdurrahman 'Gus Dur' Wahid in the role of president. 

HISTORY OF BALI INDONESIAN

Posted by : FIRMAN RIZKI

- Copyright © FIRMAN RIZKI FEBRIAN - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -